Daar El-Amien Indonesia

Merupakan lembaga nirlaba yang bergerak di bidang pemberdayaan anak yatim dan pemuda melalui dana Zakat, Infaq, Shaqah, dan Wakaf.

Religious Awareness

Meningkatkan kesadaran pemuda untuk menerapkan nilai dasar keislaman dalam kehidupan sehari-hari dan Melahirkan generasi muda yang moderat.

Education Improvement

Mengembangkan potensi dan bakat pemuda Indonesia melalui penyelenggaraan program pembinaan dan pelatihan dan Memberikan Beasiswa kepada yang tidak mampu.

Economic Empowerment

Menyelenggarakan pembinaan dan pelatihan entrepreneur guna menencetak pengusaha muda muslim Indonesia.

Social and Humanity

Menjalian hubungan yang harmonis diantara lapisan masyarakat dan terlibat dalam aktivitas kemanusiaan di tingkat lokal, nasional, dan internasional.

Penyerahan Bantuan Kitab Kuning

*BERBAGI*
Berbagi merupakan cara yang mudah untuk mengetuk pintu keridhaan dan rahmatnya.....
Ket:
Penyerahan Kitab kuning kepada para santri Pondok Pesantren Husnul Amal Lampung Utara dari para muhsinin.



PENGADAAN KITAB KUNING UNTUK PARA SANTRI YATIM DAN KURANG MAMPU




PENGADAAN KITAB KUNING UNTUK PARA SANTRI YATIM DAN KURANG MAMPU
Pada kesempatan ini Daar El-Amien sebagai salah satu perkumpulan para Mahasiswa dan Alumni dari berbagai Universitas di dalam dan luar negeri kembali mengadakan kegiatan sosial dengan tema “Senyum mu, senyumku juga”. Kali ini kita akan mengadakan program pengadaan kitab kuning untuk para santri dari kalangan Yatim dan Kurang Mampu yang terdapat di Pondok Pesantren Husnul Amal Lampung Utara, tepatnya di Jl. Jalur Dua No. 023 RT. 01 LK. 08 Kel. Kota Alam Kec. Kotabumi Selatan Lampung Utara.
Salah satu alasan penetapan Pondok Pesantren Husnul Amal sebagai tempat amal kami ialah karena literasi dalam bentuk buku di pondok ini masih kurang. Hal ini menyebabkan para santri harus bergiliran untuk menulis terlebih dahulu materi yang akan mereka pejari. Hal tersebut sangat mengganggu dan menghambat mereka dalam belajar. Oleh karena itu kami bertegad agar dapat memenuhi kebutuhan literasi mereka sehingga setiap kegiatan belajar mengajarnya tidak terhambat. Besar harapan, semoga kelak mereka menjadi para ulama yang senantiasa mencerahkan dan membawa rahmat sebagai pewaris para nabi.
Adapun kitab yang mereka butuhkan adalah sebagai berikut:

  1. Mabadiul Awaliyah,  Juz 1, 2, dan 3 (Ushul Fiqh)
  2. Muhadastah Allughotul Arobiyah juz 1 2 3 (Bahasa Arab)
  3. Khulasoh Nurul Yaqin  Juz 1, 2, dan 3 (Sejarah Islam)
  4. Matan Safinatun Najah (Fikih Imam Syafi’i)
  5. Kasafitun Sajjah (Fikih Imam Syafi’i)
  6. Muktasor Jiddan dan Matan Jurumiyah (Bahasa Arab/Nahwu)
  7. Amsilatut Tasrifiyah (Bahasa Arab/Sharaf)
  8. Tamrinul Lughoh Juz 1, 2, dan 3 (Bahasa Arab)
  9. Fathul Qorib (Fikih Imam Syafi’i)
  10. Kaylani (Bahasa Arab/Sharaf)
  11. Buku Simtut Duror (Shalawat dan Puji-pujian)
  12. Barjanzi dan Dib’a (Shalawat dan Puji-pujian)
  13. Mabadiul Fiqiyah Madzhab Imam Syafi’I  Juz 1, 2, dan 3 (Fikih Imam Syafi’i)

 Bagi kawan dan sahabat semua yang hendak mendukung program ini, kami sangat membuka uluran tangan anda semua.
Bantuan bisa berupa langsung Kitab-Kitab di Atas yang langsung dikirim ke alamat:
Fahadil Amin Al Hasan
Paseban Timur, Gang 16 D 320 Rt. 12 Senen Jakarta Pusat, 10440
(Belakang Masjid Ummu Sakinah)
No. Hp. 08997874985

atau

Berupa UANG yang akan langsung dibelikan Kitab-Kitab di Atas melalui No. Rekening:
BNI Syariah     : 0449610290 (kode: 009)
BCA Syariah    : 0490000270 (kode: 536)
an. Fahadil Amin Al Hasan

atau
Melalui Penggalangan dana Online kitabisa.com dengan link:

Profil Singkat Pondok Pesantren:
Pondok Pesantren (PonPes) Husnul Amal
Awal pendirian pondok pesantren Husnul Amal diprakarsai oleh KH. Ibrahim Dm.Ba sekitar tahun 2000 di wilayah jalur dua  Rt. 01 Lk. 08 Desa Kebon Empat Kecamatan Kotabumi Selatan Kabupaten Lampung Utara .Kegiatan belajar mengajar di pesantren ini mengalami pasang surut.Pada awal pendiriannya pesantren Husnul Amal mempunyai 7 orang santri yang mukim dan kurang lebih 100 orang santri ngalong (tidakmenetap di asramapesantren).
Setelah selang beberapa tahun, pondok pesantren sempat mengalami fase dimana tidak mempunyai santri yang mukim, hanya terdapat santri ngalong saja. Hingga akhirnya pada tahun 2013 pesantren ini mempunyai santri mukim kembali dan mengalami banyak kemajuan. Baik secara kuantitas santri maupun fasilitas terkait dengan system pembelajaran di pondok pesantren. Kini, pondok pesantren  Husnul Amal memiliki lebih dari 100 orang santri mukim dan juga lebih dari 100 orang santri ngalong.
Sistem pembelajaran di pondok pesantren ini menerapkan system  Salaf  yang dipadukan dengan sistem pondok modern. Sehingga para santri yang mondok dipesantren ini diharapkan tidak hanya menguasai ilmu agama, namun dapat pula menguasai ilmu pengetahuan umum serta teknologi yang mampu meningkatkan daya saing, baik pada tatanan lokal maupun global yang pada akhirnya dapat menjadi insan kamil.
Kedapannya, pondok pesantren Husnul Amal senantiasa dapat berperan sebagai  pelopor masyarakat belajar (learning community) yang islami dan mampu menciptakan calon-calon pemimpin bangsa yang berkarakter.

Alamat: Jl. Jalur Dua No. 023 RT. 01 LK. 08 Kel. Kota Alam Kec. Kotabumi Selatan Lampung Utara.

Aktualisasi Etika Bisnis Al-Ghazali Dalam Membangun Mekanisme Pasar Islami

Aktualisasi Etika Bisnis Al-Ghazali
Dalam Membangun Mekanisme Pasar Islami
 Oleh: Fahadil Amin Al Hasan (Universitas Indonesia)


Aktivitas ekonomi dan bisnis merupakan salah satu aktivitas yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan seorang manusia. Ia merupakan hal terpenting sebagai implikasi dari kondrat manusia yang merupakan makhluk sosial. Tanpa adanya aktivitas tersebut, mustahil bagi manusia dapat menjalankan kehidupannya secara sempurna. Selain itu, bisnis juga merupakan salah satu pilar dalam penopang perkembangan ekonomi dan pembangunan di suatu negara.
Tujuan utama bagi pelaku ekonomi dan bisnis ialah untuk meraup keuntungan setinggi dan sebesar mungkin. Namun ada kalanya yang ia dapatkan bukannya keuntungan tetapi sebaliknya, yang  ia dapatkan hanyalah sebuah kebuntungan. Lantas apa yang menjadi penyebabnya? Apakah karena sistem yang dijalankannya, ataukah ada hal penting lainnya tidak diikutsertakan dalam sebuah aktivitas bisnis?
Dalam hal ini,  penulis berasumsi bahwa salah satu penyebab utamnya ialah moral atau etika yang dikesampingkan dalam aktivits bisnis yang ia lakukan. Aktivitas semacam ini sangat dipengaruhi oleh paham neo-klasik model Walrasian yang dengan tegas menolak pengaruh faktor etika dalam proses pembuatan  kebijakan oleh konsumen/produsen dalam sebuah bisnis (Syed Nawab Haider Navqi, 2003: 183). Padahal faktanya, moral atau etika itu sangat penting dalam dunia bisnis. Dan memang bisnis seharusnya dinilai dari sudut pandang moral, sama seperti semua kegiatan manusia lainnya juga dinilai dari sudut pandang moral (K. Berten, 2000: 05). Dengan demikian, unsur etika sangat penting untuk dihadirkan dalam sebuah aktivitas ekonomi dan bisnis. Dalam hal ini, terdapat beberapa contoh perusahaan besar yang merugi bahkan sampai pada tingkatan collapse sebagai akibat tidak dihadirkannya unsur etika di dalamya. Misalnya beberapa waktu terakhir dikabarkan bahwa perusahan ritel Hero telah menutup banyak cabangnya (http://market.bisnis.com), ditutupnya swalayan Macan Yaohan di Medan (http://medansatu.com), ditutupnya Mall Cilandak, dan beberapa kasus lainnya.
Dalam Islam, etika pada aktivitas ekonomi dan bisnis tidak hanya mengenai pelayanan ataupun keterbukaan perusahaan saja, namun lebih komplek daripada itu.  Sebenarnya, segala sesuatu yang berkaitan dengan praktik ekonomi dan bisnis telah dicontohkan oleh rasulullah saw melalui sebuah mekanisme pasar secara Islami. Nilai-nilai yang diajarkan rasul tersebut direduksi melalui pemikiran al-Ghazali yang dengan secara gamlang beliau berhasil menjelsakan kepada segenap kaum muslim bagaimana ber-bisnis dan ber-muamalah secara Islami. Berikut adalah beberapa intisari pemikiran al-Ghazali yang berkaitan dengan etika yang harus disertakan dalam sebuah aktivitas ekonomi dan bisnis.

Al-Dunya’ Mazratul Akhirah
Salah satu gagasan Al-Ghazali yang paling penting mengenai urusan ekonomi dan bisnis ialah bahwasannya segala kerja keras yang dilakukan di dunia ini  bukan hanya untuk kehidupan sesaat, namun lebih dari itu, yaitu untuk kehidupan hakiki di akhirat kelak. Kegiatan ekonomi seorang muslim meliputi waktu yang lebih luas, dunya dan akhirat (Abu Hamid al-Ghazali, Jilid IV, 1993). Dengan demikian, tidak selayaknya bagi seorang muslim untuk bermalasan dan berpangku tangan, karena sebenarnya status manusia yang paling hakiki ditentukan oleh produktivitas kerjanya (Al-Ghazali, Jilid II, t.th: 793). Walaupun Al-Ghazali termasuk seorang sufi, namun ia tidak membolehkan sifat-sifat untuk menjauhi dunia, hidup tanpa berusaha dan hanya beribadah kepada Allah tanpa mencari rizki. Ia mengecam orang-orang yang menganggur, hidup malas dan menyusahkan kepada orang lain, apalagi meminta-minta, karena hal tersebut adalah salah satu yang dibenci Allah (Al-Ghazali, Jilid II, t.th: 758).
Dalam aktivitas ekonomi dan bisnis, seseorang tidak diperkenankan melaku­kan­­nya hanya sekedar saja, ia harus melakukan secara sepenuh jiwanya, karena apabila dilakukan, potensi untuk ia bershaqah dan memuliakan orang-orang kafir semakin besar. Oleh karenanya, beliau berpandangan bahwa kegiatan bisnis itu adalah sesuatu yang illegitimate, namun beliau mendorong dan menganjurkan untuk terlibat dalam kegiatan bisnis (Al-Ghazali, Jilid II, t.th: 759).

Kemashlahatan (Kesejahteraan Sosial)
Pandangan Al-Ghazalitentang sosial-ekonominya didasarkan pada konsep yang disebut dengan fungsi kesejahteraan social (Al-Ghazali, Jilid II, t.th: 318-319). Menurutnya, maslahah adalah memelihara tujuan syari’ah yang terletak pada perlindungan agama (din), jiwa (nafs), akal (aql), keturunan (nasab), dan harta (mal).  Al-Ghazala telah mengidentifikasi semua masalah baik berupa mashalih maupun mafasid dalam meningkatkan kesejahteraan sosial. Ia menjabarkan kesejahteraan sosial tersebut dalam kerangka hiraki kebutuhan individu dan sosial.
Adapun hirarki tingkatan tersebut adalah:
·       Dharuriyyah, terdiri dari seluruh kativitas dan hal-hal yang bersifat esensial untuk memelihara kelima prinsip tersebut.
·       Hajjiyyah, terdiri dari seluruh aktivitas dan hal-hal yang tidak vital bagi pemeliharaan kelima prinsip tersebut, tetapi dibutuhkan untuk meringankan dan menghilangkan rintangan dan kesukaran hdup.
·       Tahsiniyyah, yaitu berbagi aktivitas dan hal-hal yang melewati batas hajah (Al-Ghazali, Jilid II, t.th:  123-124).

Nilai-nilai Kebaikan
Dalam praktek ekonomi dan bisnis Al-Ghazali memberikan rekomendasi agar para ekonom atau pembisnisislam memperhatikan masalah moral dalam berbisnis.Ia menyebutkan beberapa cara untuk mempraktekan perilaku baik dalam berbisnis, diantaranya ialah:
1.       Menghindari diri untuk mengambil keuntungan secara berlebihan.
2.       Rela merugi ketika melakukan transaksi dengan orang miskin.
3.      Kemurahan hati dalam menagih hutang.
4.      Kemuran hati dalam membayar hutang.
5.      Mengabulkan permintaan pembeli jika untuk membatalkan jual beli jika pihak pembeli menghendakinya, atau sebaliknya.
6.      Menjual makanan kepada orang miskin dengan cara angsuran dengan maksud tidak meminta bayaran bilamana mereka belum mempunyai uang dan membebaskan mereka dari pembayaran jika meninggal dunia (Al-Ghazali, Jilid IV, t.th: 793-801).

Al-Ghazali pun memberikan pedoman untuk menyempurnakan akhlak/etika ketika melakukan aktivitas bisnis dan ekonomi, yaitu:
1.       Setiap hari harus memperbaharui niat dan akidah yang baik untuk memulai aktivitas bisnis.
2.       Tujuan melakukan bisnisnya adalah untuk menunaikan fardu kifayah atau tugas dalam bermasyarakat.
3.      Kedibukan dalam menjalankan aktivitasnya tidak menghalangi untuk mengingat Allah.
4.      Tidak rakus dan serakah.
5.      Dalam menjalankan bisnis, bukan hanya untuk menjauhi yang haram saja, namun senantiasa memelihara diri dari perbuatan Syubuhat.
Berusaha untuk menjaga diri melakukan transaksi dengan orang-oraang yang tidak adil (Al-Ghazali, Jilid IV, t.th: 793-801).

Jauh dari Perbuatan Riba
Bagi al-Ghazali, larangan riba adalah bersifat muthlak.Argument yang dikemu­kakan beliau adalah bukan hanya sebagai perbuatan dosa, namun memberokan kemungkinan terjadinya eksploitasi dan ketidakadilan dalam transaksi.
SelanjutnyaAl-Ghazali menyatakan, bahwa menetapkan bunga atas utang piutang berarti membelokan uang dari fungsi utamanya, yakni sebagai alat tukar saja. Oleh karena itu, jika uang yang diterima lebih banyak dari jumlah yang diberikan akan terjadi perubahan standar nilai. Dan ini perbuatan ini terlarang.Ia mengatakan: “jika seseorang memperdagangkan dinar dan dirham untuk men­dapat­­kan dinar dan dinar lagi, ia menjadikan dinar dan dirham sebagai tujuan­nya. Hal ini berlawanan dengan fungsi dinar dan dirham. Uang tidak diciptakan untuk menghasilkan uang... (Al-Ghazali, Jilid IV, t.th: 769).
Dengan demikian, segala bentuk penopang dalam aktivits ekonomi dan bisnis seorang muslim harus dijauhkan dari transaksi ribawi kecuali dalam keadaan dharurat.

Beberapa prinsip dalam menjalankan aktivits ekonomi dan bisnis di atas diharapkan senantiasa hadir dalam membangun mekanisme pasar Islami yang diharapkan dapat mendongkrak keuangtungan dalam bisnis yang dijalankan, termasuk mendapat­kan keberkahan dari Allah swt.